“Teringat kata-kata Rizvan Khan dalam Film My
Name Is Khan bahwa agama islam adalah agama kasih sayang, alhamdulilah aku
merasakan kasih sayang dari-Mu ya Allah. Alhamdulilah…”
Langkahku terhenti di
sini, di sebuah daerah bernama Leuwidaun, dekat lapangan Kerkhof, Garut. Aku
menatap sekeliling, penuh dengan manusia lalulalang kesana kemari, memakai
pakaian beraneka ragam. Seragam sekolah, pakaian kerja, seragam tukang ojek
berwarna pink (wahhh, cantik sekali para tukang ojek itu ya. Mungkin mereka
terinspirasi oleh Cherry bell sehingga membuat seragam berwarna pink
sepert itu.), senyum kecil keluar dari wajahku yang sejak tadi memasang raut
cemberut, “hahaha, tukang ojek Cherry bell mungkin mereka itu”, gumamku. Aku
melempar penglihatanku ke arah yang lain, mencoba kembali menikmati realita
dunia yang sedang terjadi di sini. Raut wajah langit siang ini tersenyum, terus
tersenyum sejak pagi, entah apa yang membuatnya tetap pada senyumannya, dalam
hati aku berkata “semoga saja suasana hati sang mentari hari ini, sama dengan
suasana hatiku yang gembira ria, hehehe…”. Aku tersenyum lagi.
Kulihat kota ini,
sungguh indah. Banyak hal yang tak dimiliki kotaku, yaitu Cikampek tapi
dimiliki oleh kota ini, kota yang ada di balik gunung, gunung, dan gunung.
Mulai dari SMA bertaraf internasionalnya, mesjid agungnya, sampai Chokodotnya
yang manis, nah, hal terakhir yang kusebutkan barusan adalah hal yang menjadi
favoritku, namun harganya sangat tidak bersahabat, sangat, sangat, sangat tidak
bersahabat dengan kondisi kantongku saat ini (hehehe, maksudku aku sedang
kanker alias kantong kering…). Tapi, alhamdulilah aku masih bisa membeli dia
batang cokelat untuk kubawa ke Bandung sebagai oleh-oleh untuk teman-temanku
dan sudariku yang tengah sakit hari ini (semoga ia cepat sembuh. Allahu
Yasyfiki ya Ukhty, aaaminn….). aku cukup khawatir dibuatnya hari ini, tapi apa
yang harus ku lakukan dengan apa yang terjadi padanya???, ia bilang “sudah tak
usah khawatirkan aku, aku baik-baik saja…”. Aku terpaksa tetap diam di sini dan
berusaha untuk tidak khawatir dengan kabar itu. aku hanya berharap agar
dia baik-baik saja.
Kembali ke topic utama.
Alhamdulilah sekali hari ini banyak anugerah yang telah engkau berikan padaku
ya Allah, aku sungguh bersyukur menjadi hamba-Mu, dan aku juga sungguh
bersyukur menjadi ummat Muhammad nabi-Mu, ummat islam dengan ajarannya yang
luhur. Seperti yang dikatakan oleh Rizvan Khan dalam film My Name is Khan bahwa
islam adalah agama dengan kasih sayang, jalan Allah dalam memberikan cobaan
bagi ummat-Nya adalah dengan kasih sayang, dan alhamdulilah aku masih bisa
merasakan kasih sayang-Mu hari ini ya Allah.
Salah atau tidak aku
tak tahu, hanya hati kecil ini terus memberontak, memintaku untuk
menghubunginya meski kutahu hp-nya “geubis” (geubis=terjatuh) dan tak bisa
menyala, juga tak bisa membalas sms dariku. Aku berusaha untuk menolak
keinginan hati kecilku itu, terus berusaha dengan sekuat tenaga, namun rasa
cintaku akhirnya memenangkan pertarungan batin ini, aku menghubunginya dan
berharap ia akan mengangkat telepon dariku, satu menit berlalu, hening kurasa
di sini. Dua menit berlalu, tak setitikpun harapan itu muncul ke permukaan.
Tiga menit berlalu dan “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada
diluar jangkauan, the number you are calling is not active or in…tut…tut…tut…”,
aku sungguh tak kuasa mendengarnya, ingin kubanting saja hp-ku ini ke lantai,
tapi aku harus bersabar karena tulang rusuk takkan pernah tertukar.
Hari berganti, rasa
syukurku atas nikmat-Nya harus tetap ku tunjukkan. Aku menunggu kejutan apalagi
yang akan Allah berikan padaku hari ini.
Aku mengiriminya pesan
di fb, isinya permohonan maaf dan rasa rinduku padanya. Aku tak berharap banyak
dia akan membalasnya. Aku membuat sebuah catatan yang berjudul “sms part 8.
Leuwidaun I’m in love”, aku menulisnya berdasarkan imajinasi dan perasaan.
Menulis tentang imajinasi, aku teringat spongebob squarepants. Mahluk yang satu
ini tak habis-habisnya membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin,
mulai dari bekerja tanpa di beri gajih sepeserpun bahkan malah dia yang
membayar untuk bekerja, bermain dalam kardus dengan suara yang bermacam-macam,
sampai dengan merasa senang saat hendak melaksanakan demo kepada Mr. Krabb
bossnya, semua yang si spongebob lakukan itu berdasarkan imajinasi, jadi akupun
mengikutinya. Kembali pada kejadian dimana aku menulis catatan. Aku mengayunkan
jemari-jemariku, meninju papan keyboard dengan kekuatan penuh (yah. Udah kaya
power rangers aja ya kekuatan penuh, hehehe…), aku menulis selagi imajinasiku
berjalan, mengalir seperti air, ditambah lagi aku menerima sesuatu di kronologi
fesbukku, isinya seperti ini “nijar ana boleh ngrim tulisan ente ga ? k
penerbit ana suka ngopi tulisan ente dapet respon gmna ?” (kalimat ini tanpa
diedit sedikitpun), seorang teman yang baik hati ini bernama Moelyana Derajat,
aku berteman dengannya sejak SMP di ponpes Darussalam, kasomalang, subang. Aku
mengingatnya sejenak, dan sekali lagi aku berterima kasih atas kebaikannya mau
mencoba mengirimkan tulisan-tulisanku ini ke penerbit (terima kasih mul,
hehehe…), semangatku bertambah dengan hal ini. aku terus menulis, menulis dan
menulis. Ada yang bilang kalau aku menulis karena hobby, ada juga yang bilang
aku menulis ini mengalir seperti air, tapi semuanya kujawab dengan satu
kalimat, ini dia kalimatnya “aku menulis karena ini adalah anugerah dari Allah,
aku menulis mengalir seperti air, tak tertahankan sampai di muaranya…”.
Sudah, sekarang kembali
ke topic utama. Tulisanku telah selesai, aku menerbitkannya dalam fesbukku dan
menandai orang-orang yang sering menerima tulisanku dan aku berharap mereka
membacanya dan memberikan masukan yang bermanfaat bagiku, tapi ada hal yang
paling kuimpikan dari tulisanku yang berjudul sms part 8 itu, aku berharap dia
akan membacanya dan setelah ia membacanya, aku akan memberitahunya kalau
tulisan itu untuknya dan ungkapan perasaanku padanya, semoga ia sadar. Beberapa
saat kemudian, ia membalas inboxku, ia berkata “hai…”, aku merasa senang
setengah mati. Kubalas pesannya itu, “hai juga…bla…bla..bla…dan bla….” (isi
pesan disensor, demi kepentingan pihak yang mempunyai kepentingan, hehehe…),
aku bahagia, sungguh bahagia. “Terima kasih ya Allah, engkau telah
mempertemukan hamba kembali dengan hamba-Mu yang satu ini”, ujarku, aku tak
bisa menyembunyikan senyumku darinya dan dari semua orang yang ada di dalam
kostanku ini. aku bahagia.
Chatting yang
berlangsung cukup lama antara aku dan dirinya mampu membuat semangatku kembali
ke titik tertinggi setelah sebelumnya terjatuh karena kecapekan, “terima kasih
telah membangkitkan semangatku lagi, dan terima kasih telah membuat senyumanku
tetap bertahan pada posisinya yang manis seperti chokodot, hehehe…”, ujarku
pada pesan terakhir. Aku beranjak pergi meninggalkan warnet tanpa mematikan
billing-nya, apalagi bayar. Hehehehe….
Dan setelah itu, aku
langsung berlari sekuat tenaga berusaha menghindari semua orang yang
mengejarku, hehehe…
Terima kasih…
0 komentar:
Posting Komentar