aku bermimpi di atas awan

“Mereka membawaku ke sebuh tempat yang mirip dengan Guantanamo, Penjara tersadis di dunia”
Aku duduk menghadap  ke utara, menghirup angin muson timur yang sedang berpacu kencang melawan arus air laut yang biru, melihat awan yang tetap indah seperti yang ku gambarkan dalam tulisanku sebelumnya “Aku Yang Mengejar Awan”, hanya saja hari ini aku tak melihat senyuman hangat sang mentari yang menyapaku, aku termenung sejenak “kemanakah senyuman sang mentari yang hangat itu?”, ujarku sambil menggenggam pensil 2B, aku tak punya lagi teman selain ia, dan bila ia pergi meninggalkanku hari ini aku akan kesepian. Entah  apa yang ada dalam pikiranku hari ini aku tak tahu, sama sekali tak tahu, dan kumohon jangan tuntut aku untuk tahu apa yang sedang ku pikirkan hari ini jika kalian membaca catatanku yang ini.
Aku  hanya duduk-duduk saja sejak pagi, menunggu sang mentari menampakkan wujudnya yang cantik, menunggu senyumannya yang hangat dan menenangkan. Aku tetap menunggunya meski hari telah beranjak sore. Aku temukan diriku sudah bulukan, bersarang laba-laba, bahkan lebih parahnya lagi  sudah ada gembel yang tidur di hadapanku, ada orang yang gantung diri segala, orang yang mancing ikan di comberan, bahkan lebih lebih parah lagi ada orang yang berjualan segala “wah udah kaya di pasar”, gumamku. Aku ingin mencoba berdiri dan menyingkirkan semuanya dari diriku, aku ingin kembali bersih dan ganteng seperti sedia kala. “aaarrrgggghhhhhh, aku gak mau jadi manusia berwajah pasarrrrr….”, aku berteriak sekuat tenaga, berusaha membuat mereka semua mengerti kalau mereka itu sedang melakukan transaksi di atas tubuh seorang pemuda yang gagah berani lagi tampan sepanjang masa (wikwiw, malah narsis lagi, bukannya teriak lagi iya gak?, hehehe).
Aku beritikad dalam hati bahwa aku akan mengerahkan semua kekuatanku untuk mengusir mereka semua yang tengah berjualan di atas tubuhku, aku bersiap untuk mengeluarkan semuanya sekaligus begitu hitungan ketiga selesai. Aku menghitung sampai tiga, “satu…dua…tiga….aaaaaarrrrggggghhhhhh!!!!!!!!!!”, aku sudah mengeluarkan semuanya dari tubuhku,  aku menunggu respon dari para penjual itu, dan benar saja tidak lama setelah itu mereka lari kocar kacir ke berbagai penjuru dunia, ada yang ke Swiss, ke Germany, bahkan ada juga yang masuk ke comberan (eh?, hehehe). Aku senang mereka pergi, aku hendak berdiri dan membersihkan tubuhku dari sarang laba-laba, gembel yang lagi tidur juga jamur yang mulai tumbuh dimana-mana, tapi ternyata mereka lari kocar kacir itu bukan karena teriakanku yang menggelegar bak petir di siang bolong, mereka lari karena ada Satpol PP, “aaarrrggghhh…”, gumamku dalam sebuah kantong plastic berwarna hitam. Mereka  menangkapku, dan membawaku pergi dari sana.
“habislah aku kalau sudah begini…”, gumamku penuh rasa frustasi. Aku yakin mereka mengira kalau aku lah yang menyediakan para penjual kaki lima itu lahan untuk berjualan, dan kalau aku bilang tidak mereka akan tetap pada keyakinan mereka bahwa akulah pelakunya. Dalam bayanganku aku melihat diriku yang lain tengah disiksa dengan sangat kejam bahkan lebih kejam dari apa yang sudah aku tonton dalam film Saw. Aku mereka bawa menuju penjara bawah tanah, kaya di Guantanamo Gitulah. Aku takut kalau diriku yang berpredikat lelaki tertampan dunia akherat ini akan kurus kering kaya daun yang mati, “aaarrrggghhh, aku gak mau berakhir kaya daun yang gugur di medan perang (eh? Ini lagi tegang-tegangnya masih sempet aja ngawur, hehehe) maksudku daun yang gugur di tanah menjadi humus dan menyerap ke dalam tanah bersatu dengan fosil, menjadi minyak bumi dan berakhir dalam kompor, aaarrrggghhh….”, aku berteriak dalam hati, berharap agar mereka mendengar apa yang ada dalam hatiku, karena apa yang datang dari hati pasti akan masuk kedalam hati pula.
Sejurus kemudian mereka membawaku ke dalam sebuah ruangan yang gelap gulita, mereka berbicara dalam bahasa yang aneh, begini kira-kira, “bla..bla…bla…bla…”, gak ngerti kan?, jangankan kamu, aku saja gak ngerti apa yang mereka bicarakan padahal aku berdiri tepat di antara mulut mereka berdua. Selesai berbicara, mereka menyeretku menuju sebuah tempat yang begitu menyeramkan, sangat menyeramkan bahkan, dan mereka melemparku kedalamnya.
“byuurrr…byyuurrr…byyuurrr…bangun euy, gues beurang. Nte moal sholat shubuh?”, seorang  teman menyiramkan air se-ember tepat ke wajahku. Aku terbangun.
“alhamdulilahilladzi ahyana ba’da ma amaatana wa ilaihinushuur. Aku bermimpi rupanya, mimpi yang sangat indah, mimpi yang  dimulai dengan sang mentari dan diakhiri oleh se-ember air dingin”, ujarku sambil mengusap wajahku yang basah kuyup. Aku tersenyum dahulu sebelum beranjak mengambil air wudhu, “terima kasih ya Allah, engkau masih mengijinkan hamba untuk merasakan mimpi malam tadi…”.

Terima kasih…

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © / dunia sary :)

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger